SINTANG — Kondisi akses jalan yang menghubungkan Desa Tanah Merah menuju Desa Tanjung Lalau hingga kawasan Tonak Goneh, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, kembali menjadi perhatian masyarakat.
Warga Desa Tanah Merah bersama masyarakat dari tujuh desa se-Jalur Sungai Kayan Hulu bahkan turun langsung membuka dan membersihkan ruas jalan secara swadaya. Aksi tersebut dilakukan karena kondisi akses transportasi yang dinilai semakin mendesak, terutama di tengah musim kemarau yang menyebabkan debit sungai terus menyusut.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan masyarakat, sekitar 30 warga Desa Tanah Merah ikut bergotong royong membuka dan membersihkan jalan menuju Desa Tanjung Lalau. Kegiatan tersebut juga diikuti kaum ibu dan warga lainnya.
Masyarakat menyebut ruas jalan darat tersebut menjadi salah satu akses penting bagi warga tujuh desa, yakni Desa Empakan, Tanjung Lalau, Lintang Tambuk, Tanah Merah, Merah Arai, Nanga Masau, dan Tapang Menua.
“Jalan ini adalah satu-satunya akses untuk tujuh desa di jalur Sungai Kayan Hulu,” demikian salah satu poin dalam pernyataan sikap masyarakat.
Kondisi semakin sulit karena jalur sungai yang selama ini menjadi salah satu sarana transportasi masyarakat mulai tidak dapat dilalui akibat air sungai surut. Warga menyebut perahu maupun speedboat semakin sulit digunakan.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selain mobilitas warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendapatkan pelayanan kesehatan, akses pendidikan juga menjadi persoalan.
Anak-anak SMP dari Desa Tanah Merah disebut harus melewati jalur tersebut untuk bersekolah menuju wilayah Lintang Tambuk.
Karena kondisi tersebut, masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Sintang melalui dinas terkait agar memberikan perhatian serius terhadap ruas jalan dari Tonak Goneh hingga Tapang Menua.
Masyarakat juga berharap adanya sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sintang, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Pusat untuk menangani persoalan akses transportasi tersebut secara konkret.
Dalam pernyataannya, masyarakat menegaskan bahwa mereka mendukung program pemerintah. Namun, mereka meminta agar aspirasi dan kondisi yang dihadapi warga tujuh desa tersebut tidak terus diabaikan.
Masyarakat juga menyampaikan peringatan agar pemerintah segera memberikan respons dan tindakan nyata. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk keresahan warga, bukan sebagai ancaman.
“Kami bukan mengancam, tapi kami dengan jujur menyampaikan jika dalam waktu singkat tidak ada tanggapan dan tindakan nyata dari Pemerintah Kabupaten Sintang maupun dinas terkait, janganlah menyalahkan kami selaku masyarakat apabila di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” demikian bunyi pernyataan warga.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi ruas jalan dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
“Nyawa, pendidikan, dan kehidupan ribuan warga sedang tertahan di sini,” tegas masyarakat dalam seruan tersebut.
Warga berharap persoalan akses jalan ini tidak hanya menjadi bahan pembahasan, tetapi segera ditindaklanjuti melalui langkah konkret, sehingga mobilitas masyarakat dan aktivitas pendidikan serta perekonomian warga tujuh desa dapat kembali berjalan dengan lebih baik.
Pernyataan sikap tersebut ditutup dengan pesan adat masyarakat Kalimantan Barat: “Adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata.” ( wrt/susi)









